Selayar, Infowarga.id – Kepala Balai Taman Nasional (TN) Takabonerate, Faat Rudianto, tahan permohonan pertimbangan tehnis Asdianti, Direktris PT. Selayar Mandiri Utama (SMU) Kepulauan Selayar, selaku pemohon yang diajukan sejak 17 Juni 2020, hingga saat ini belum ada jawaban.

Ditahannya permohonan pertimbangan tehnis, Asdianti, Direktris PT. SMU dengan adanya laporan yang sementara berproses di Kepolisian, tentang adanya dugaan pidana murni melalui jual beli pulau Lantigiang dalam kawasan TN Takabonerate.

Dia sampaikan, biarkan dulu proses hukumnya menjawab itu, baru kami menanggapi pertimbangan pertimbangan tehnisnya.

Hal ini disampaikannya kepada Ketua LSM LP – RI Sulsel, Imran Hasan dan beberapa Media, di ruang tunggu, kantor Balai TN Takabonerate, Jln. S. Parman Kelurahan Benteng Selatan, Benteng, pekan lalu, Kamis (23/7/2020).

Baca Juga:  KPU Kepulauan Selayar Gelar Bimtek Verifikasi Faktual Dukungan Pasangan Calon Perseorangan

Kepala Balai TN Takabonerate, Faat Rudianto, juga sampaikan tentang dugaan jual beli pulau Lantigiang, Nomenklaturnya mau dinamakan apa bahasanya, itu terserah dia yang jelas permohonannya tidak jelas apa yang diminta.

“Khusus pulau Lantigiang, berdasarkan isentapak, memang dia masuk zona pemanfaatan tapi hanya untuk ruang publik bukan untuk ruang usaha,” kata Faat Rudianto.

Sementara itu Zainuddin. P, SH, mewakili investor saat ditemui di kantor Pengadilan Negeri Selayar, beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa kalau pihak Balai Taman Nasional keberatan atas pengalihan hak beberapa Ha diatas pulau Lantigiang, dari ahli waris, Syamsul Alam ke Asdianti sebagai pembeli, itu diselesaikan di Pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan undang undang konservasi, tentang pengelolaan kawasan pesisir dan pulau pulau kecil.

Baca Juga:  Pembukaan Latihan Posko 1 Kodim 1415 Selayar, Kasrem 141/Tp Jelaskan Hal Ini

” investor Asdianti, tidak membeli pulau, tetapi membeli lahan diatas pulau Lantigiang dalam kawasan TN. Takabonerate untuk dimanfaatkan menyiapkan sarana pariwisata alam,” kata Zainuddin P. SH.

Lahan yang dibeli diatas pulau Lantigiang, sesuai dokumen jual beli antara 4 – 5 Ha, jadi bukan seluas pulau.

“Olehnya itu, pengalihan hak dari ahli waris Syamsul Alam sebagai penjual dan Asdianti sebagai pembeli lahan untuk dimanfaatkan berinvestasi dengan membangun sarana usaha pariwisata alam sebagaimana permohonan yang dimasukkan ke Balai TN. Takabonerate, jadi tidak benar kalau dikatakan membeli pulau Lantigiang”, bantah Zainuddin. P, SH.

Adapun permohonan pertimbangan tehnis PT. SMU ke Balai TN Takabonerate, untuk berinvestasi dengan memanfaatkan lahan di atas Pulau Lantigiang, kawasan TN. Bonerate.

Baca Juga:  Karaeng Misbah : Mari Bersatu Bersama Kacamatayya

Sementara Kanit Tipidter Reskrim, Aipda Amir Daus saat mau dikonfirmasi sekaitan laporan Balai Taman Nasional Takabonerate, tidak berada ditempat, senin (27/7/2020).

Akan tetapi Kaurbin Ops Reskrim, IPDA Danial bersama salah seorang penyidik Tipidter Reskrim, saat ditanyakan laporan Balai TN Takabonerate, tentang pulau Lantigiang, hingga saat ini baru pengembangan penyelidikan, kita, belum bisa pastikan bahwa itu pidana.

Kepala Balai TN. Takabonerate, kepada wartawan, beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa jual beli pulau adalah kasus pidana murni, IPDA, Muh. Danial katakan itu terserah dia yang pasi di Polisi saat ini baru pengambilan keterangan.
(**)

 

Editor : Syahrul

By Syahrul

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: